Hukum

Merokok di Sekolah, Guru dan Murid dapat Dipidanakan!

Baik guru maupun murid, keduanya memiliki status dan kedudukan yang sama di mata hukum.

Avatar Written by Kreta Amura
· 1 min read >
Pidana Terhadap Perokok di Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan tempat generasi muda calon pemimpin bangsa di tempa. Oleh karena itu, tempat ini dilindungi oleh serangkaian hukum, termasuk ditetapkannya sebagai Kawasan Tanpa Rokok. Perlindungan ini dilakukan demi mewujudkan lingkungan belajar mengajar yang kondusif, ama dan nyaman.

Akan tetapi, isu yang justru berkembang nyatanya mengarah pada fenomena yang bertolak belakang. Mereka yang seharusnya dilindungi dari asap rokok yang membahayakan, justru menjadi salah satu pengguna dan konsumen dari produk berbahaya ini, dan kerap melanggar aturan yang diperuntukkan untuk melindungi lingkungannya.

Berbagai alasan dan pengalihan kemudian ditunjukkan sebagai bentuk reaksi penolakan, khususnya ketika satu atau banyak dari mereka terciduk menghisap rokok di kamar mandi atau tempat parkir sekolah. Alasan yang paling sering digunakan adalah karena meniru kebiasaan guru yang kerap menggunakan dan mengonsumsi rokok.

Guru dan Murid dapat Dikenakan Sanksi

Tapi tahukah kamu? Ditetapkannya lingkungan sekolah sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR) berarti turut menjerat siapapun yang menggunakan dan mengonsumsi rokok pada kawasan tersebut. Entah itu adalah tamu, baik yang diundang maupun tidak diundang, petugas kebersihan, guru pengajar, bahkan kepala sekolah sekalipun.

Semua orang yang beraktifitas dalam kawasan tanpa rokok terikat dengan Pasal 115 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (“UU Kesehatan”) dan Pasal 50 ayat (1) dan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan.

Sehingga, menggunakan atau mengonsumsi rokok di area sekolah, yang termasuk dalam KTR merupakan sebuah pelanggaran, dan dapat dipidanakan. Sanksi bagi para pelanggar ini pun, tidak tanggung-tanggung.

Setiap orang yang dengan sengaja melanggar kawasan tanpa rokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 dipidana denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

Sehingga terhadap murid dan guru yang merokok di lingkungan sekolah, keduanya bisa dikenakan sanksi berupa pidana dengan denda maksimal Rp 50 juta karena telah melanggar kawasan tanpa rokok. Selain itu, guru tidak seharusnya memberikan contoh yang buruk bagi murid-muridnya. Sehingga, penentapan aturan KTR di sekolah secara tidak langsung dapat melindungi baik siswa, maupun martabat dan kehormatan para guru.

Bagaimana Jika ada Tempat Khusus Merokok di Sekolah?

Memahami bahwa beberapa orang telah meyakini bahwa merokok merupakan salah satu kebutuhan mendasar, muncul sebuah gagasan bahwa Tempat Khusus Merokok dapat menjadi solusi dan pengecualian untuk bisa menunaikan ibadah ngudud di sekolah.

Faktanya, Pemerintah Daerah, dalam hal ini wajib menetapkan kawasan tanpa rokok, termasuk di dalamnya sekolah dan fasilitas umum lainnya.

Pelajar yang ketahuan merokok di sekolah via hanyatauaja.com

Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 188/MENKES/PB/I/2011; 7 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok (“Peraturan Bersama Menteri 188/2011”) telah dengan jelas menyebutkan bahwa sekolah dan tempat ibadah dilarang menyediakan tempat khusus untuk merokok dan merupakan KTR yang bebas dari asap rokok hingga batas terluar.

Sehingga, tidak ada alasan atau negosiasi dalam bentuk apapun terhadap penggunaan atau konsumsi rokok di lingkunga sekolah, babhakn bagi guru legend sekalipun. Jika kamu mendapati seseorang yang mungkin biasa melanggar peraturan ini, kamu bisa melaporkannya .

Ilustrasi pidana terhadap perokok di lingkungan sekolah diambil dari pktvbontang.com

Written by Kreta Amura
Ada banyak keajaiban yang tercipta dari kesendirian seorang insan. Bayangkan, apa yang bisa dicapai umat manusia dengan suatu kebersamaan? Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *