Hukum

Membeli Ijazah dan Gelar Akademik Menurut Hukum

Mulai dari dasar hukum, pasal yang mengatur, hingga konsekuensi dan hukuman berlapis yang mungkin akan dijatuhkan.

Avatar Written by Kreta Amura
· 2 min read >
Hukum Jual Beli Ijazah

Tekanan dan persaingan di dunia kerja yang semakin ketat mensyaratkan seseorang untuk memiliki kompetensi lebih dari pesaing lainnya. Pergi ke perguruan tinggi, belajar, lulus dan mendapatkan gelar akadmik dengan predikat memuaskan menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan kompetensi tersebut.

Ijazah, gelar akademik lengkap dengan cetakan nilai yang tertera didalamnya kemudian menjadi penting. Tidak hanya bagi mereka yang ingin melamar kerja, tapi juga bagi mereka yang ingin mendapatkan promosi dan kenaikan jabatan.

Tidak heran, banyak orang yang kini berlomba-lomba untuk melengkapi portfolio pendidikan dengan pergi ke perguruan tinggi bergengsi. Baik para pemuda, maupun mereka yang telah lama bekerja. Semua berebut untuk bisa mendapatkan ijazah dan gelar akademik dari perguruan tinggi.

Akan tetapi, tidak semua orang memiliki kesempatan dan kemampuan yang sama untuk mengakses pendidikan dan lulus dengan predikat memuaskan. Salah satu cara untuk menyiasati permasalahan tersebut ialah dengan membeli atau menyogok oknum di Perguruan Tinggi untuk mengeluarkan ijazah yang berlawanan dengan tata cara dan prosedur yang ada.

Hal tersebut faktanya kerap terjadi, baik di Perguruan Tinggi Negeri, apalagi swasta. Lalu, bagaimana pandangan hukum tentang fenomena membeli ijazah dan gelar akademik pada perguruan tinggi?

Adanya Hak dan Kewajiban yang Harus Dipenuhi

Suasana Kelas Saat Kuliah

Proses panjang perkuliahan via echo360.com

Menurut Pasal 42 ayat (1) dan (2) UU 12/2012 Ijazah diberikan kepada lulusan pendidikan akademik dan pendidikan vokasi (doktor dan doktor terapan) sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu program studi terakreditasi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Ijazah tersebut diterbitkan oleh perguruan tinggi yang memuat program studi dan gelar yang berhak dipakai oleh lulusan pendidikan tinggi (dalam hal ini gelar doktor atau doktor terapan).

Dengan begitu, hanya perguruan tinggi yang memuat program studi dan gelar tertentu yang berhak untuk menerbitkan ijazah, serta memberikan gelar akademik kepada seseorang. Di sisi lain, hanya pihak perseorangan yang telah menyelesaikan suatu program studi selama masa studi yang ditentukan lah yang berhak mendapatkan ijazah dan gelar tersebut.

Jika kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka penerbitan ijazah dan memberian gelar akademik dianggap tidak memenuhi syarat.

Hukum Membeli dan Menjual Ijazah melalui Perguruan Tinggi

Hukum Pemalsuan Ijazah

Surat-surat berharga via insightfulnana.com

Jika penerbitan ijazah atau pemberian gelar akademik dilakukan berdasarkan perjanjian jual beli, maka hukum yang mengikatnya adalah hukum jual beli. Berdasarkan Pasal 1320 KUH Perdata, sarat sah sebuah perjanjian adalah:

  1. Kesepakatan para pihak dalam perjanjian;
  2. Kecakapan para pihak dalam perjanjian;
  3. Suatu pokok persoalan tertentu;
  4. Suatu sebab yang tidak terlarang;

Perjanjian jual beli dapat dikatakan sah jika merujuk point satu sampai dengan tiga, akan tetapi terkendala pada persyaratan poin empat. Menurut Pasal 1337 KUH Perdata, suatu sebab adalah terlarang, jika sebab itu dilarang oleh undang-undang atau bila sebab itu bertentangan dengan kesusilaan atau dengan ketertiban umum.

Sehingga, perjanjian yang terjadi antara dua pihak terkait jual beli ijazah atau gelar akademik dapat dikatakan tidak sah, bahkan dilarang. Oleh karena itu jual beli tersebut batal demi hukum/dianggap tidak mempunyai kekuatan hukum dan tidak pernah terjadi.

Hukuman Bagi Para Pelaku Jual/Beli Ijazah dan Gelar Akademik

Kontrak Kesepakatan Jual Beli

Pelaku jual beli ijazah via wedgeeffect.com

Pelaku jual beli ijazah (orang yang membeli dan pihak perguruan tinggi) akan dikenakan sanksi pidana. Bagi pembeli, ijazah dan gelar akademiknya akan dicabut oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan bagi organisasi atau perguruan tinggi yang terlibat akan mendapatkan sanksi administratif berupa:

  1. Peringatan tertulis;
  2. Penghentian sementara bantuan biaya Pendidikan dari Pemerintah;
  3. Penghentian sementara kegiatan penyelenggaraan Pendidikan;
  4. Penghentian pembinaan; dan/atau
  5. Pencabutan izin.

Tidak hanya sampai di sana, keduanya juga dapat terjerat hukuman berlapis, karena pembelian ijazah dan gelar akademik memiliki indikasi pemalsuan surat atau korupsi.

Jika ijazah terdaftar secara resmi dalam institusi Perguruan Tinggi, maka kasus tersebut dikategorikan dalam kasus penyogokan, atau tindak pidana korupsi dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).

Akan tetapi, apabila jiazah dan gelar akademik yang dimaksudkan tidak terdaftar secara resmi dala institusi Perguruan Tinggi, kasus tersebut masuk dalam kategori pemalsuan surat.

Bagi kamu yang ingin membeli ijazah atau gelar akademik dari seseorang yang mengaku menjual jasa tersebut, lebih baik pikir-pikir lagi. Jika ijazah tersebut ternyata palsu, kamu tidak bisa memberikan banyak tuntutan karena perjanjian tersebut sesungguhnya tidak sah secara hukum dan atau dianggap tidak pernah terjadi.

Pun demikian apabila ditemukan bahwa ijazah yang kamu beli terbukti asli, penerbitannya tetap akan dibatalkan beserta dengan gelar akademik yang dicabut karena didapatkan tidak sesuai dengan ketentuan hak dan kewajiban yang telah dibahas sebelumnya.

Terlepas dari itu semua, gelar akademik bukanlah kunci utama untuk meraih kesuksesan di dunia kerja. Mereka mungkin hanya akan mengantarkan kamu pada bangku administrasi. Setelahnya kamu harus berusaha sendiri dengan seluruh kemampuan yang kamu miliki.

Ilustrasi momen kelulusan via gettyimages.co.uk

Written by Kreta Amura
Ada banyak keajaiban yang tercipta dari kesendirian seorang insan. Bayangkan, apa yang bisa dicapai umat manusia dengan suatu kebersamaan? Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *