Religi

4 Macam dan Cara Berhijrah dalam Islam

Setiap muslim berhijrah dengan caranya sendiri. Kamu juga bisa berhijrah saat ini juga. Ketahui cara terbaik untuk berhijrah!

Dyah Gayatri Written by Dyah Gayatri
· 2 min read >
Macam dan Cara Hijrah dalam Islam

Secara garis besar, hijrah terbagi ke dalam dua jenis, yaitu hijrah makaniyah dan maknawiyah. Dari segi makaniyah, hijrah berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sementara itu, secara maknawiyah, hijrah berarti perubahan akhlaq dengan menghindari untuk menyakiti muslim sesama manusia dengan lidah dan tangannya.

Konsep hijrah sendiri terkadang masih dipandang penuh dengan prasangka dan anggapan yang salah. Beberapa umat muslimin sendiri, menganggap hijrah sebagai perubahan yang radikal oleh seorang insan. Padahal, hijrah merupakan suatu proses, dan pelaksanaannya dilakukan secara sedikit demi sedikit namun berangsur-angsur.

Menariknya lagi, hijrah dapat dimaknai melalui empat perbuatan. Jadi, ada empat jalan bagi umat muslim untuk melakukan hijrah, sesuai kemampuan dan kondisi yang dimilikinya. Berikut 3 makna hijrah seorang muslim.

1. Hijrah I’tiqadiyah

Secara bahasa berarti hijrah keyakinan. Maksudnya adalah bahwasanya seorang muslim memiliki keyakinan yang kadang lemah, kadang juga kuat. Seorang yang melakukan hijrah I’tiqadiyah berarti telah bergerak dari yang sebelumnya mendekati kekufuran, menjadi yakin sepenuhnya kepada Allah.

Hijrah I’tiqadiyah termasuk kedalam jenis hijrah yang paling mendasar, sekaligus menjadi pondasi untuk menjejak pada jenis hijrah lainnya. Sederhananya, bagaimana kita bisa melakukan hijrah jika kita belum memberikan kesetiaan sepenuhnya kepada Allah?

2. Hijrah Fikriyah

Secara bahasa berarti hijrah pikiran. Maksudnya adalah berfikir sesuai dengan syariat dan meninggalkan pikiran-pikiran yang bertentangan dengan syariat. Dunia yang kita tempati saat ini, sebenarnya telah menjadi medan peperangan yang tanpa kita sadari, atau yang kemudian disebut “Ghozwul Fikr” (Perang pemikiran).

Isu sekularisme, kapitalisme , liberalisme, pluralisme, dan lain sebagainya  telah menyusup ke dalam sendi-sendi dasar pemikiran umat islam di zaman sekarang. Satu-satunya cara untuk memenangkannya adalah mengembalikan pedoman hidup kepada Al-Qur’an dan Hadits.

3. Hijrah Syu’uriyah

Secara bahasa berarti cita rasa. Terkadang, apa yang kita sukai dan gemari justru bertentangan dengan syari’at islam. Sepertihalnya menyukai lagu-lagu pop dibanding mendengar Al-Qur’an, lebih memilih membaca novel dibanding membaca Al-Qur’an, serta melihat hiburan yang menampakkan hal yang tak pantas dan mengundang syahwat.

Hijrah Syu’uriyah dilakukan dengan cara meninggalkan cita rasa yang bertentangan dengan syari’at dan mulai membiasakan diri untuk mencintai budaya-budaya atau cita rasa yang dapat membawa kita pada kebaikan. Sepertihalnya mendengar kajian baik secara online maupun offline, menyenandungkan surah-surah pendek, ataupun melakukan shalat sunnah dan memperbanyak amalan salih.

4. Hijrah Sulukiyyah/Khulukiyah

Secara bahasa suluk berarti tingkah laku dan kepribadian, atau juga bisa disebut dengan akhlaq. Perubahan pada akhlaq dapat tercermin dari perbuatan dan keseharian seorang mukmin. Orang yang melakukan hijrah sulukiyyah, kesehariannya akan berubah.

Tidak heran, hijrah Sulukiyaah ini merupakan jenis hijrah yang mudah untuk dikenali, sekaligus paling sering disalah persepsikan. Bahwa hijrah haruslah merubah segalanya. Padahal, manusia adalah mahluk yang lemah. Bukan merupakan kesalahan apabila kita memperbaiki diri sedikit demi sedikit, aspek demi aspek. Karena sesungguhnya tidak mudah untuk merubah manusia yang sedari awal memang penuh dengan keburukan.


Berhijrah tidak berarti harus melakukan 4 jenis hijrah secara bersamaan. Tapi jika mampu sah-sah saja. Lebih dari itu, hijrah merupakan sebuah proses dan berasal dari kesadaran diri sendiri, yang tentunya didukung oleh lingkungan di sekitar.

Oleh karena itu, ada banyak cara dan ragam yang bisa kamu lakukan untuk berhijrah. Mulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu dengan membenahi keyakinan, pemikiran, kesukaan, hingga pada taraf lanjut yaitu perbuatan.

Dalam berhijrah, tidak perlu memaksakan diri dan terburu-buru. Nimkati saja seluruh proses yang ada, yang paling penting adalah ada niatan untuk istiqomah menjalankan setiap perubahan walaupun tidak seberapa. Pada akhirnya nanti, dipenghujung hari, mudah-mudahan kita semua bisa menutup mata dalam kondisi terbaik.

Ilustrasi berhijrah via bimbinganislam.com

Written by Dyah Gayatri
Urip iku murup. Kehidupan selayaknya dapat memberi kebermanfaatan. Tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan orang di sekitar kita, beserta seluruh alam semesta. Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *