Hukum

Jika Berhadapan dengan Oknum Polisi yang Berkata Kasar saat Bertugas

Ada kondisi di mana seorang oknum polisi dapat dipidanakan. Salah satunya adalah saat berkata kasar dalam bertugas.

Avatar Written by Kreta Amura
· 1 min read >
Berdebat dengan Polisi

Berurusan dengan pihak kepolisian merupakan salah satu perkara yang begitu dihindari banyak orang. Apalagi, ketika berada di tengah perjalanan dan dipaksa untuk berhenti.

Meskipun, kebanyakan kesalahan ada di tangan pengemudi, namun tak jarang pula ada beberapa oknum yang memang cari-cari kesempatan. Tidak jarang, perdebatan dan percekcokan pun terjadi di jalanan, terkait oknum polisi yang ngotot menilang pengendara, ataupun pengendara yang merasa benar dan ingin segera dilepaskan. Percekcokan tersebut, bagaimanapun hanyalah satu dari sekian kejadian yang kerap membuat masyarakat dan oknum kepolisian bersitegang.

Terkadang, jika suasana memuncak, kata-kata kasar dan makian tidak jarang terlontar dari masing-masing pihak. Lalu, bagaimana pandangan hukum dalam melihat persoalan tersebut?

Ternyata, oknum polisi yang melontarkan kata-kata kasar dapat dikenakan sanksi pidana karena penghinaan ringan dan juga sanksi etik karena tidak berperilaku sesuai dengan kode etik kepolisian yang harusnya melayani masyarakat dengan sepenuh hati.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa ketika kamu membalas atau bahkan memulai untuk berkata-kata kasar, kamu juga dapat dipidana dengan sanksi yang sama karena telah melakukan penghinaan ringan .

Tiap-tiap penghinaan dengan sengaja yang tidak bersifat pencemaran atau pencemaran tertulis yang dilakukan terhadap seseorang, baik di muka umum dengan lisan atau tulisan, maupun di muka orang itu sendiri dengan lisan atau perbuatan, atau dengan surat yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya, diancam karena penghinaan ringan dengan pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau pidana denda paling banyak Rp 4,5 juta.

Pasal 315 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Meskipun seorang secara tindakan benar, namun apabila disertai makian dan kata-kata kasar dalam mengingatkan, maka orang tersebut dapat dijatuhi hukuman pidana karena penghinaan ringan, termasuk ketika yang menghina ataupun yang melontarkan kata-kata kasar tersebut adalah seorang polisi.

Agar dapat dihukum, atau diperkarakan dalam suatu gugatan di pengadilan, kata-kata penghinaan itu, baik lisan maupun tulisan, harus dilakukan di tempat umum (yang dihina tidak perlu berada di situ). Apabila penghinaan itu tidak dilakukan di tempat umum, maka agar tetap dapat dihukum, maka setidaknya harus memenuhi syarat berikut:

  1. Jika dengan lisan atau perbuatan, maka orang yang dihina itu harus ada di situ melihat dan mendengar sendiri;
  2. Jika dengan surat (tulisan), maka surat itu harus dialamatkan (disampaikan) kepada yang dihina.

Penghinaan yang dimaksud tidak terbatas pada perkataan, melainkan juga perbuatan, sepertihalnya meludahi muka, memegang kepala, mendorong melepas peci, melepas hijab/jilbab, dan lain-lain. Demikian pula suatu sodokan, dorongan, tempelengan, atau gesture lain yang sebenarnya merupakan penganiayaan, tetapi bila dilakukan tidak seberapa keras, dapat pula disebut sebagai suatu penghinaan.

Oleh sebab itu, dalam menyikapi sebuah persoalan, kita harus mengambil sikap setenang mungkin untuk mencegah keluarnya kata-kata kasar dari mulut kita. Siapapun yang memulai duluan, lebih baik untuk menahan sikap, dan apabila sudah tidak tahan, siapkan bukti dan saksi yang kuat agar perkara tersebut dapat diajukan ke pengadilan.


Terlepas dari itu semua, permasalahan tersebut tidaklah perlu ditanggapi secara serius, hingga di bawa ke pengadilan. Sesungguhnya permasalahan tentang kesalah pahaman dapat di selesaikan saat itu juga dengan azas kekeluargaan, yang tentunya dapat diterima dengan lapang dada oleh kedua pihak yang bertikai.

Dengan begitu, resolusi permasalahan haruslah menceriminkan kepuasan dari kedua belah pihak.

Pihak yang berkata-kata kasar, meskipun secara tindakan dia benar, haruslah meminta maaf kepada mereka yang dimaki atau dilontari kata-kata kasar, walaupun secara tindakan dia salah. Sebaliknya, pihak yang bersalah, sebaiknya mempertanggung jawabkan kesalahannya sesuai dengan aturan yang disepakati bersama.

Ilustrasi percekcokan dengan polisi via snopes.com

Written by Kreta Amura
Ada banyak keajaiban yang tercipta dari kesendirian seorang insan. Bayangkan, apa yang bisa dicapai umat manusia dengan suatu kebersamaan? Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *