Hukum

Hukum Pidana Pencuri yang Mengembalikan Barang Curian

Banyak kasus penjahat yang insaf. Jika barang curian dikembalikan, apakah pencuri tetap bisa dipidanakan?

Avatar Written by Kreta Amura
· 2 min read >
Kelakuan Aneh Sasaeng Fans Korea Selatan

Pada beberapa kasus dan kejadian, kita sering menyaksikan atau bahkan mengalami sendiri seorang kriminal yang bertaubat setelah melakukan kejahatan. Dalam konteks pencurian, biasanya pencuri menyadari kesalahan dan ketidak-berkahan harta yang didapatkan, lalu mengembalikan barang curian dengan kondisi yang baik dan utuh.

Menanggapi kasus di atas, mungkin kita akan melepaskan si pencuri sebagai bentuk apresiasi atas niatan baiknya untuk merubah diri. Akan tetapi, benarkah masalahnya sampai di sana saja? sesederhana itu? Khususnya, ketika sebuah laporan terkait tindak pencurian telah dilaporkan dan dibuat oleh pihak berwajib.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah pelaku pencurian tetap dipidanakan meskipun barang curian telah dikembalikan tanpa ada satu kekurangan apapun?

Delik Formal dan Delik Materil

Dalam meninjau suatu kasus pidana, kita harus tahu kasus tersebut dikategorikan dalam delik formal atau delik materil. Delik formil adalah delik yang menitikberatkan pada tindakan, sedangkan Delik Materiil adalah delik yang menitikberatkan pada akibat.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan dua delik di atas, kasus pencurian termasuk ke dalam Delik Formil. Artinya, penilaian hukum atas kasus tersebut dititikberatkan pada tindakan, bukan akibat. Sehingga ketika seseorang mencuri barang milik orang lain, lalu dengan terpaksa ataupun sukarela mengembalikan barang tersebut, perbuatannya tetap dikategorikan sebagai suatu tindak pidana pencurian, dan bisa dipidanakan atau diberikan hukuman sesuai dengan KUHP pasal 362.

Delik Biasa dan Delik Aduan

Selain termasuk ke dalam delik formil, kasus pencurian juga dapat dikategorikan ke dalam delik biasa dan delik aduan, tergantung situasi dan kondisi yang melatarbelakanginya. Sebagian besar delik-delik dalam KUHP adalah delik biasa (gewone delict), artinya untuk melakukan proses hukum terhadap perkara-perkara tersebut tidak dibutuhkan pengaduan.

Delik biasa dapat melindungi korban dari berbagai kerugian yang diakibatkan. Akan tetapi, delik biasa juga akan sangat merugikan bagi pelaku. Karena perkara tidak harus dilaporkan atau diadukan, maka dampak hukum terhadap tindak pidana pencurian tidak dapat dibatalkan. Artinya, bahkan ketika pencuri telah mengembalikan barang curiannya, ia masih tetap harus berhadapan dengan hukum.

Berbeda dengan kasus pidana yang dikategorikan dalam delik aduan. Eddy O.S. Hiariej menguraikan setidaknya tiga bab dalam KUHP yang berkaitan dengan delik aduan. Pertama, Bab XVI KUHP tentang Penghinaan. Kedua, kejahatan pencurian, pemerasan, dan pengancaman serta penggelapan dalam keluarga. Ketiga, kejahatan terhadap kesusilaan, yakni perzinahan.

Keistimewaan dari delik aduan adalah, bahwasanya pihak pengadu dapat menarik kembali laporannya dalam watu 3 (tiga) bulan setelah sebuah dokumen diajukan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 75 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (“KUHAP”). Jika terkait dengan kasus pencurian, ketika barang telah dikembalikan, maka semuanya tergantung pada pihak pengadu. Ia berhak menarik kembali laporannya, atau meneruskan tindak pencurian ke ranah hukum.

Contoh Kasus Pencuri yang Mengembalikan Barang Curian

Contoh pertama: A merupakan pegawai kantor perusahaan B, mencuri beberapa perabot kantor dan menyebabkan kerugian materil pada perusahaan B. Karena merasa dirugikan, perusahaan B melapor kepada polisi, bersamaan dengan berjalannya investigasi. Dari jejak CCTV, diketahui bahwa yang mengambil perabotan kantor adalah A. Namun A memutuskan untuk mengembalikan barang-barang tersebut sebelum tuduhan diberikan. Kejujuran A membuat pihak perusahaan terkesima, lalu mencabut laporan yang dibuat di kepolisian. Maka tuntutan pidana pencurian dapat dibatalkan. Hal tersebut dapat dibenarkan sesuai dengan prinsip delik aduan.

Contoh kedua: C menyusup masuk ke kediaman D, lalu mengambil sepeda motor. Di tengah jalan, ia dihadang oleh petugas keamanan komplek yang telah mendapat laporan kehilangan dari D via WhatsApp. Kasus pencurian di atas bagaimanapun termasuk ke dalam delik biasa, karena laporan yang dilakukan oleh pemilik barang, yaitu D bukanlah laporan formal yang ditujukan kepada kepolisian. Sehingga, meskipun C mengakui kesalahan dan mengembalikan sepeda motor, akibat hukum yang atas tindak pencuriannya tindakannya tidak dapat dibatalkan.

Hukuman untuk Pencuri dalam Kaca Mata Hukum

Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.

Perlu diingat, bahwasanya nominal Sembilan ratus rupiah adalah batas minimal dari denda yang dibebankan oleh pelaku pencurian. Sementara itu, menurut Pasal 362 KUHP telah disesuaikan berdasarkan Pasal 3 PERMA 2/2012, nominal tersebut sangat mungkin untuk dilipat gandakan sebanyak 1000 kali.

Written by Kreta Amura
Ada banyak keajaiban yang tercipta dari kesendirian seorang insan. Bayangkan, apa yang bisa dicapai umat manusia dengan suatu kebersamaan? Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *