Hukum

Haruskah Menyantumkan Label Haram pada Makanan?

Jika ada makanan atau minuman berlabel halal, haruskah ada label haram juga?

Avatar Written by Kreta Amura
· 1 min read >
Label Halal oleh MUI

Salah satu keterangan atau label yang umum ditemukan pada setiap makanan adalah label halal. Label ini dimaksudkan untuk memberikan rasa nyama dan aman, khususnya bagi umat muslim untuk mengonsumsinya.

Selain dari segi keamanan dan kenyamanan, penggunaan label halal juga merupakan strategi untuk membidik target pasar yang lebih luas. Dengan turut menyantumkan label halal ke dalam kemasan suatu produk makanan, maka secara tidak langsung telah Menjadikan umat muslim yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia sebagai pasar potensialnya.

Akan tetapi tahukah kamu, selain dari label makanan halal, ternyata ada label lain yang memiliki fungsi yang sama, namun berkebalikan. Meskipun tidak ada aturan baku terkait bentuk dan logo dari label haram tersebut, apa yang disebut dalam Pasal 26 ayat (2) UU 33/2014 hanya mencakup keharusan untuk mencantumkan keterangan tidak halal.

Adapun yang dimaksud “keterangan tidak halal” menurut UU 33/2014 Pasal 26 Ayat (2) adalah pernyataan tidak halal yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari produk. Keterangan tersebut dapat berupa gambar, tanda, dan/atau tulisan.

Selanjutnya, keterangan ini digunakan dan harus dicantumkan pada produk makanan yang mengandung bahan-bahan yang tidak aman dikonsumsi oleh umat muslim sepertihalnya:

  • Darah
  • Bangkai
  • Babi dan atau
  • Hewan yang disembelih tidak sesua dengan syariat Islam.

Keterangan tersebut tidak terbatas pada produk makanan saja, akan tetapi juga produk minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetik, serta barang gunaan yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat (Pasal 1 angka 1 UU 33/2014).

Dengan begitu, produk industri yang turut menggunakan bahan-bahan haram tidak diharuskan untuk mendaftar dan menyantumkan label halal pada produknya, akan tetapi wajib memberikan keterangan padakemasannya bahwa produk tersebut bukanlah produk halal dan tidak untuk dikonsumsi umat muslim.

Adapun sanksi atau hukuman yang diberikan bagi oknum atau pelaku yang lalai dalam menyantumkan keterangan produk tidak halal pada kemasannya bermacam-macam, sesuai pertimbangan hakim dan beratnya dampak yang ditimbulkannya. Bentuk sanksi tersebut antara lain dapat berupa:

  1. Teguran lisan,
  2. Peringatan tertulis, hingga
  3. Denda administrative

Kesimpulannya, meskipun pelaku usaha tidak memiliki kewajiban untuk mendaftarkan dan menyantumkan label halal pada kemasan produknya, akan tetapi bagi mereka yang memproduksi produk yang mengandung bahan-bahan haram, diwajibkan baginya untuk menyantumkan keterangan tidak halal pada kemasan sebagai bentuk perlindungan konsumen.

Ilustrasi label halal via wanitamedan.com

Written by Kreta Amura
Ada banyak keajaiban yang tercipta dari kesendirian seorang insan. Bayangkan, apa yang bisa dicapai umat manusia dengan suatu kebersamaan? Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *